Thursday, December 31, 2009

ISLAM IN DUBAI


More than 80% of the population of the United Arab Emirates are non-citizens. Virtually most of the country's citizens are Muslims; approximately 85% are Sunni and the remaining 15% are Shi'a. Foreigners are predominantly from South and Southeast Asia, although there are substantial numbers from the Middle East, Europe, Central Asia, the former Commonwealth of Independent States, and North America. According to a ministry report, which collected census data, 76 percent of the total population is Muslim, 9 percent is Christian, and 15 percent is "other". Unofficial figures estimate that at least 15 percent of the population is Hindu, 5 percent is Buddhist, and 5 percent belong to other religious groups, including Parsi, Bahá'í, and Sikh. These estimates differ from census figures because census figures do not count "temporary" visitors and workers, and Bahá'ís and Druze are counted as Muslim.

Friday, October 09, 2009


JABAL MAGNET

Madinah - Kota Madinah memang dikelilingi jabal (gunung). Salah satu jabal yang menarik wisatawan adalah jabal magnet. Jabal ini terletak sekitar 30 km dari Kota Madinah menuju arah kota Tabuk. Jalan sepanjang sekitar 4 km di kawasan gunung ini diyakini memiliki daya magnet. Mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi di saat perseneling mobil dalam posisi nol. Reporter detikcom Arifin Asydhad telah mengunjungi kawasan ini, Rabu (13/12/2005) lalu bersama sejumlah anggota DPR yang berkunjung ke Madinah. Rombongan menuju kawasan ini dengan menumpang bus tanggung berkapasitas 18 tempat duduk. Lokasi Jabal Magnet ini ditempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Madinah. Jalanan menuju kawasan ini memang cukup indah. Sebelah kanan dan kiri dikelilingi oleh gunung berbatu. Ada juga pohon-pohonan yang membuat gurun menjadi agak menghijau. Jabal Magnet sudah bukan berada di daerah haram. Kawasan ini agak sedikit bebas. Bahkan, kawasan ini bisa disebut 'Puncak'-nya Madinah. Kawasan gunung ini menjadi tempat rekreasi bagi para keluarga Arab Saudi. Sebelah kiri dan kanan sepanjang jalan ini banyak dipenuhi tenda yang disewakan. Juga ada sejumlah toilet untuk umum. Nah, di sepanjang jalan inilah diyakini ada magnet. Kondisi jalan yang mengarah menjauhi Kota Madinah agak menanjak. Karena itu, pengaruh magnet terhadap kendaraan yang menjauhi Kota Madinah dan menuju Tabuk ini tidak terasa. Hanya saja, sopir mengaku sangat berat melajukan kendaraan. "Tiba-tiba langsung berat Pak. Harus masuk gigi 1," kata Bambang, sang sopir bus. Dengan laju yang berat itu, dia meyakini adanya pengaruh magnet itu. Sebab, dengan kondisi jalan yang tidak terlalu menanjak, seharusnya gigi persneling dua juga masih kuat. Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Namun, ancer-ancernya gampang. Bila kendaraan melaju dari Madinah, maka jalan bermagnet ini dimulai sejak terlihat bendungan air di sebelah kiri jalan hingga 4 km ke arah luar kota Madinah. Batasan akhirnya ada percabangan jalan di samping gunung berbatu yang cukup tinggi. Pengaruh magnet sangat terasa bila kendaraan melaju dari batas gunung tinggi itu hingga bendungan air. Bus dibiarkan dalam kondisi mesin yang tetap nyala. Namun, gigi persneling diarahkan ke posisi nol (netral). Lambat laun, kendaraan itu makin melaju dengan kencang. Memang jalan menuju Kota Madinah menurun. Namun, menurunnya tidak curam, landai-landai saja. Yang mengherankan, kendaraan terus melaju dengan cepat. Ini terlihat dari speedometer mobil. Saat detikcom berkunjung ke tempat ini, kecepatan bus bisa mencapai 120 km. "Kalau menurunnya hanya seperti ini harusnya kecepatannya tidak sampai 100 km," kata Bambang. Setelah sekitar melaju 3 km, kecepatan bus mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Dan akhirnya, bus memiliki kecepatan sangat lambat saat berada di depan bendungan air. Memang misterius. Belum diketahui secara jelas apa hubungan magnet dengan laju kendaraan. Meski begitu, kawasan ini dikenal sebagai Jabal Magnet. Orang-orang dari negara asing saat berkunjung ke Madinah jarang yang melewatkan peristiwa langka ini. (ary/)